Monday, March 30, 2009

Manaqib Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki




Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki. Beliau juga belajar kepada ulama-ulama Makkah terkemuka lainnya, seperti Sayyid Amin Kutbi, Hassan Masshat, Muhammad Nur Sayf, Sa’id Yamani, dan lain-lain. Sayyid Muhammad memperoleh gelar Ph.D-nya dalam Studi Hadits dengan penghargaan tertinggi dari Jami’ al-Azhar di Mesir, pada saat baru berusia dua puluh lima tahun.

Beliau kemudian melakukan perjalanan dalam rangka mengejar studi Hadits ke Afrika Utara, Timur Tengah, Turki, Yaman, dan juga anak benua Indo-Pakistan, dan memperoleh sertifikasi mengajar (ijazah) dan sanad dari Imam Habib Ahmad Mashhur al Haddad, Syaikh Hasanayn Makhluf, Ghumari bersaudara dari Marokko, Syekh Dya’uddin Qadiri di Madinah, Maulana Zakariyya Kandihlawi, dan banyak lainnya. Sayyid Muhammmad merupakan pendidik Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seorang ‘alim kontemporer dalam ilmu hadits, ‘alim mufassir (penafsir) Qur’an, Fiqh, doktrin (‘aqidah), tasawwuf, dan biografi Nabawi (sirah). Sayyid Muhammad al-Makki merupakan seorang ‘aliim yang mewarisi pekerjaan dakwah ayahanda, membina para santri dari berbagai daerah dan negara di dunia Islam di Makkah al-Mukarromah.

Ayahanda beliau adalah salah satu guru dari ulama-ulama sepuh di Indonesia, seperti Hadratus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Maimun Zubair dan lain-lain. Dalam meneruskan perjuangan ayahandanya, Sayyid Muhammad sebelumnya mendapatkan sedikit kesulitan karena beliau merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah pertama yang diambil adalah melanjutkan studi dan ta’limnya terlebih dahulu. Beliau berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan pilihannya. Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam fak Hadith dan Ushuluddin beliau kembali ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang ayah.

Disamping mengajar di Masjidil Haram di halaqah, beliau diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz- Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bagian ilmu Hadith dan Usuluddin. Cukup lama beliau menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua Universitas tsb, sampai beliau memutuskan mengundurkan diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil membuka majlis ta’lim dan pondok di rumah beliau. Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjidil haram atau di rumah tidak bertumpu pada ilmu tertentu seperti di Universitas, akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan mencicipi apa yang diberikan Sayyid Muhammad Maka dari itu beliau selalu menitik beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah.

Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya, beliau selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama. Dari rumah beliau telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke suluruh pelosok permukaan bumi. Di Indonesia, India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dakwah Sayyid Muhammad al Maliki, ribuan murid murid beliau yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit yang masuk ke dalam pemerintahan. Di samping pengajian dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari, beliau juga mengasuh pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan beliau memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar, para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama. Sayyid Muhammad al Maliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih- lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah. Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat Muslimin menjadi manusia yang berperilaku, baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya. Beliau adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki. Beliau selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar dan usaha menjawab dengan hikmah dan memecahkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang benar bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. Sayyid Muhammad tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai-sampai beliau menerima dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta’lim beliau di masjidil Haram.

Semua ini beliau terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan beliau selalu menghormati orang orang yang tidak sependapat dan sealiran dengannya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, mereka sangat pandai, di samping menguasai bahasa Arab, mereka juga menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan pegangan dan referensi di negara-negara mereka. Pada akhir hayat beliau saat terjadi insiden teroris di Saudi Arabia, beliau mendapatkan undangan dari ketua umum Masjidil Haram Syekh sholeh bin Abdurahman Alhushen untuk mengikuti “Hiwar Fikri” di Makkah yang diadakan pada tg 5 sd 9 DhulQo’idah 1424 H dengan judul “Al-qhuluw wal I’tidal Ruya Manhajiyyah Syamilah”, di sana beliau mendapat kehormatan untuk mengeluarkan pendapatnya tentang thatarruf atau yang lebih poluler disebut ajaran yang beraliran fundamentalists atau extremist (keras).

Dan dari sana beliau telah meluncurkan sebuah buku yang sangat popular dikalangan masyarakat Saudi yang berjudul “Alqhuluw Dairah Fil Irhab Wa Ifsad Almujtama”. Dari situ, mulailah pandangan dan pemikiran beliau tentang da’wah selalu mendapat sambutan dan penghargaan masyarakat luas. Pada tg 11/11/1424 H, beliau mendapat kesempatan untuk memberikan ceramah di hadapan wakil raja Amir Abdullah bin Abdul Aziz yang isinya beliau selalu menggaris-bawahi akan usaha menyatukan suara ulama dan menjalin persatuan dan kesatuan da’wah. Di samping tugas beliau sebagai da’i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermanfaat bagi agama, beliau juga seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab-kitab beliau yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll.

Mafahim Yujibu an-Tusahhah (Konsep-konsep yang perlu diluruskan) adalah salah satu kitab karya Sayyid Muhammad, red.) bersinar layaknya suatu kemilau mutiara. Inilah seorang manusia yang menantang rekan-rekan senegaranya, kaum Salafi-Wahhabi, dan membuktikan kesalahan doktrin-doktrin mereka dengan menggunakan sumber-sumber dalil mereka. Untuk keberanian intelektualnya ini, Sayyid Muhammad dikucilkan oleh ‘rumah Najd’ dan dituduh sebagai “seorang yang sesat”. Beliau pun dicekal dari kedudukannya sebagai pengajar di Haram (yaitu di Masjidil Haram, Makkah, red.). Kitab-kitab karya beliau dilarang, bahkan kedudukan beliau sebagai professor di Umm ul-Qura pun dicabut. Beliau ditangkap dan passport-nya ditahan. Namun, dalam menghadapi semua hal tersebut, Sayyid Muhammad sama sekali tidak menunjukkan kepahitan dan keluh kesah.

Beliau tak pernah menggunakan akal dan intelektualitasnya dalam amarah, melainkan menyalurkannya untuk memperkuat orang lain dengan ilmu (pengetahuan) dan tasawwuf. Saat kaum Salafi-Wahhabi mendiskreditkan beliau, beliau pun menulis lebih banyak buku dan mendirikan Zawiyyah beliau sendiri yang menjadi “United Nations” (Perserikatan Bangsa- Bangsa) dari para ‘Ulama. Akhirnya, protes dari dunia Muslim memaksa kaum Salafi-Wahhabi untuk menghentikan usaha mereka mem-peti es-kan sang ‘alim kontemporer’ yang paling terkenal dalam mazhab Maliki ini. Beberapa di antara mereka bahkan mulai mendukung beliau. Kedengkian mereka sebenarnya didorong oleh fakta bahwa Sayyid Muhammad al-Maliki jauh lebih unggul untuk dijadikan tandingan mereka. Dengan sendirian saja, beliau mengambil Islam Sunni dari klaim tangan-tangan Neo-Khawarij Salafi-Wahhabi dan menempatkannya kembali ke tangan mayoritas ummat ini. Melalui berbagai karya-karyanya yang menonjol, beliau menyuntikkan kepercayaan diri yang amat dibutuhkan dalam perdebatan saat kaum jahil yang mengandalkan ijtihad pribadi mulai meracuni pemikiran umat Islam. Beliau wafat hari jumat tgl 15 ramadhan 1425 H ( 2004 M) dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la disamping makam istri Rasulallah Saw. Khadijah binti Khuailid Ra. dengan meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alawi, Ali, al- Hasan dan al-Husen dan beberapa putri-putri yang tidak bisa disebut satu persatu disini. Dan yang menyaksikan pemakaman beliau hampir seluruh umat muslimin yang berada di Makkah pada saat itu termasuk para pejabat, ulama, para santri yang datang dari seluruh pelosok negeri, baik dari luar Makkah atau dari luar negeri.

Semuanya menyaksikan hari terakhir beliau sebelum disemayamkan, setelah disholatkan di Masjidil Haram ba’da sholat isya yang dihadiri oleh tidak kurang dari sejuta manusia. Begitu pula selama tiga hari tiga malam rumahnya terbuka bagi ribuan orang yang ingin mengucapkan belasungkawa dan melakukan `aza’. Dan di hari terakhir `Aza, wakil Raja Saudi, Amir Abdullah bin Abdul Aziz dan Amir Sultan datang ke rumah beliau untuk memberikan sambutan belasungkawa dan mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin agama yang tidak bisa dilupakan umat. Ketika jenazah Sayyid Muhammad Al Maliki hendak dishalatkan di Masjidil Haram, ribuan warga kota Mekkah bergantian menggusung jenazahnya. Dikabarkan toko-toko di sekitar Masjidil Haram yang dilewati jenazah mematikan lampu sebagai tanda dukacita. Kebesaran keluarga Al Maliki, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara Afrika, Mesir, dan Asia Tenggara. Jadi tidak heran dengan meninggalnya Sayyid Muhammad Al Maliki umat Islam telah kehilangan satu ulama yang telah mengoreskan tinta sejarah perjuangan menegakkan kalimat tauhid di muka bumi ini yang menjadi tauladan buat kita semua.

Sumber : http://www.almihrab.com/berita.php?opo=detail&kd_berita=120&head=Manaqib&menux=6

Saturday, March 14, 2009

“MUHAMMAD RASULULLAH SAW NABI AKHIR ZAMAN (1)”


“MUHAMMAD RASULULLAH SAW NABI AKHIR ZAMAN (1)”



Diriwayatkan d ari Ibn Mas`ud RA, Berkata Jabir kepada Nabi SAW : ”Wahai Baginda Nabi SAW, kabarkan kepada kami sesuatu sebelum terjadinya sesuatu, Berkata Nabi SAW : "Wahai Jabir, Ketahuilah sesuatu sebelum dijadikannya sesuatu, maka Allah SWT menjadikan cahaya aku dari cahaya Allah SWT, Maka dari cahaya itu Allah menjadikannya seluruh alam semesta beserta isinya”.



Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Maka bersabda Nabi SAW :”Aku yang pertama diciptakan dan aku yang terakhir dibangkitkan di alam dunia”.



Turunlah cahaya tersebut melalui terwujudnya Nabi Allah Adam AS sampai kepada para Anbiya dan Rasul yang menyambungkan keturunan dari Nabi Ismail AS, anak dari Nabi Ibrahim AS yang keturunannya menyampaikannya kepada Sayyid Abdillah, maka cahayanya terlihat pada Sayyid Abdillah dan beliaupun menikah dengan Siti Aminah, begitupun turun cahaya tersebut kepada Ibunda Nabi Muhammad SAW, maka beliaupun mengandung Nabi Muhammad SAW dengan kasih sayang Allah SWT.



Sebelum detik-detik kelahiran Nabi Muhammad SAW, ada kejadian besar sehingga tahun itu dinamakan Tahun Gajah dikarenakan Raja Abraha ingin menyerang Ka`bah dengan tentara gajah, tetapi kuasa Allah SWT Yang Maha Agung tidak diizinkannya tentara tersebut memasuki Kota Mekkah yang akhirnya Allah SWT mengirim balik tentara tersebut dengan tentara burung ababil dan telah jelas dikabarkan di dalam surat AL-Fiil yang menewaskan semua tentara bergajah bagaikan daun di makan ulat, begitulah penjagaan Allah SWT sebelum dilahirkan Nabi Muhammad SAW.

Tepat matahari pagi bersinar di bulan Rabiul Awwal pada tanggal 12 hari Senin, terwujudlah sosok yang mulia, anak yatim yang akan menggetarkan dunia, yang dikala ingin dilahirkan Allah mengirim dua suster atau bidan yang bernama Sayyidatina Mariyam dan Sayyidatina Assiyah yang untuk melayani kelahiran Nabi Muhammad SAW, maka terbukalah pintu-pintu surga dan tertutuplah pintu-pintu neraka serta turunlah milyaran bidadari dan malaikat yang bertahlil, bertahmid dan bertasbih kepada Allah SWT karena bersyukur atas lahirnya Nabi Muhammad SAW. Maka bergetarlah kerajaan Allah SWT seraya suaranya Yang Maha Mulia untuk memuliakan Kekasih-Nya, maka lahirlah Beliau SAW yang bukan lahir dari kemaluan Ibunya dan tanpa setetes darahpun dan telah dikhitan, begitu pula matanya bagaikan dipakaikan sifat dan beliau dalam keadaan bersujud. Bergembiralah ahli dunia, padang pasir yang tandus berubah menjadi hijau dan berlipat-lipat buah-buahan , air dan makanan yang sebelumnya belum pernah terjadi di kota itu dan padamlah api majusi yang disembah oleh orang-orang durhaka selama ribuan tahun menandakan telah lahirnya Baginda Al-Musthofa Muhammad SAW.



Didalam satu syair yang menjelaskan tentang kepribadian Rasulullah SAW :



Allah sempurnakan kanjeng Nabi Tubuh dan ilmu serta perangai

Tak ada tubuh ilmu perangai Terlebih sempurna dari Nabi



Tubuh Nabi terbaik dengarlah Putih dan bersih bercampur merah

Wajahnya cantik tingginya sedang Mulutnya manis di pandang orang



Giginya rata putih bersinar Bagai mutiara sungguhlah benar

Lidahnya pasih terang dan nyata Kata-katanya bagai permata



Matanya terang sungguh umpama Mamakai sifat selama-lama

Alisnya terang jika di sifat Umpama bulan pertama tepat



Jidatnya bercahaya-cahaya luas Sebagai bulan malam empat belas

Jenggotnya tebal hitam rupanya Tubuhnya sangat harum baunya



Jika dilihat pertama kali Terasa seram haibah sekali

Tapi jika terus di ikuti Terasa cinta di dalam hati



Tangannya lemas di kata orang Sebagai bunga jika dipandang

Jika memegang tubuh seorang Tercium bau bukan kepalang



Sehingga dapat diketahui Orang tersebut di sentuh Nabi

Rambutnya ikal bukan keriting Kata-katanya wahyu dan penting



Cahayanya Nabi terang sekali Dan terlebih dari matahari

Maka tak terlihat bayangan Dicahayanya matahari dan bulan



Hati Nabi pun sepanjang umur Tak ngantuk meskipun mata tidur

Dan pula Nabi tak pernah mimpi Dan tak menguap sama sekali



Dan tubuh Nabi tak dihinggapi Nyamuk lalat karena harum suci

Jika berjalan enteng badannya Duduk dimajlis tinggi pundaknya



Dan sangat halus sebagai kapas Jalan di pasir tidak berbekas

Tatapi jika jalan di batu Terlihat bekas sudah lah tentu



Dan sungguh Nabi jika di pandang Umpama matahari yang terang

Maka dari jauh sungguh nyata Tampaknya kecil dipandang orang



Allah jadikan Nabi terlepas Dari apapun yang kurang pantas

Seakan-akan Nabi yang suci Dijadikan sekehendak Nabi



Ilmu Nabi luas sekali Tak seorang yang mengatasi

Karena diberi ilmu awwalin Demikianlah ilmu akhirin



Adalah Nabi sangat pemalu Bagaikan gadis zaman dahulu

(dipetik dari nurulmusthofa.org, seliaan Al-HAbib Hassan bin Ja'far As-Segaf)

Monday, March 9, 2009

Hukum Merayakan Mawlid An-Nabi (SAW)

Sebagai seorang yang jahil dari segi ilmu, ingin saya petik suatu fatwa mengenai sambutan Mawlid yg dinyatakan oleh seorang ulama' fiqh terkemuka dunia, Syeikh Yusuf Qaradawi. Saya berharap dapatlah kita sama2 mengerti sama2 apakah tujuan serta hukum sebenar masalah furu' ini.



Shaykh Qardawi Approves of Celebrating Mawlid

"Actually, celebrating the Prophet's birthday means celebrating the birth of Islam..."

-- Shaykh Yusuf Al-Qardawi

Sheikh Yusuf Al-Qaradawi, likely the most renowned Salafi scholar of the 20th century, in replying to the question on whether Mawlid should be celebrated replied:

We all know that the Companions of the Prophet, peace and blessings be upon him, did not celebrate the Prophet's birthday, Hijrah or the Battle of Badr, because they witnessed such events during the lifetime of the Prophet who always remained in their hearts and minds.

Sa`d Ibn Abi Waqqaas said that they were keen on telling their children the stories of the Prophet's battles just as they were keen on teaching them the Qur'an. Therefore, they used to remind their children of what happened during the Prophet's lifetime so they did not need to hold such celebrations. However, the following generations began to forget such a glorious history and its significance. So such celebrations were held as a means of reviving great events and the values that we can learn from them.

p Unfortunately, such celebrations include some innovations when they should actually be made to remind people of the Prophet's life and his call. Actually, celebrating the Prophet's birthday means celebrating the birth of Islam. Such an occasion is meant to remind people of how the Prophet lived.

Allah Almighty says: "Verily in the Messenger of Allah ye have a good example for him who looketh unto Allah and the last Day, and remembereth Allah much." (Al-Ahzab: 21)

By celebrating the Prophet's Hijrah, we should teach them values such as sacrifice, the sacrifice of the Companions, the sacrifice of `Ali who slept in the Prophet's place on the night of the Hijrah, the sacrifice of Asmaa' as she ascended the Mountain of Thawr. We should teach them to plan the way the Prophet planned for his Hijrah, and how to trust in Allah as the Prophet did when Abu Bakr told him: "We could be seen so easily, the Prophet replied saying: "O Abu Bakr! What do you think of two when Allah is their third?" "Have no fear, for Allah is with us." (At-Tawbah: 40)

We need all these lessons and such celebrations are a revival of these lessons and values. I think that these celebrations, if done in the proper way, will serve a great purpose, getting Muslims closer to the teachings of Islam and to the Prophet's Sunnah and life.

As for celebrating `Ashooraa', the Prophet, peace and blessings be upon him, celebrated this day by fasting only. He asked the Jews why they fasted on that day and they told him that it was the day that Allah saved Moses and the people of Israel. The Prophet replied saying: "We have more of a right to Moses than you." So he fasted on that day and ordered the people to fast on that day. He also said near the end of his life: "By Allah, if I lived longer I would fast on the 9th of Muharram." That is, that he would fast on the 9th and the 10th in order to be different from the Jews who fast on the 10th only. However, some of the Sunnis celebrate `Ashura as if it were a feast. The Shi`ah consider it a day of sadness and mourning, but all such things are innovations and are completely un-Islamic.

As for the second part of the question [what is exact birth date of the Prophet (s)], the exact date of the Prophet's birth is disputed , but it is most likely to be on Monday, 9th Rabee`Al-Awwal (20th or 22nd of April, 571 AC), the same year in which the invasion of the Elephants took place against the Ka`bah. And he, peace and blessings be upon him, passed away on Monday 12, Rabee` Al-Awwal in the eleventh year of Hijrah (8 June 632 AC.)

Allah Almighty knows best.

[Source: Mufti Islam Online Fatwa Committee Date: Date 19/Apr/2001: Fatwa ID: 34150]
May Allah bless Shaykh Al-Qardawi for asserting the truth!

Mari bermarhaban, berzanji rawi...

Ibn Qayyim on the Singing and Recitation of Poetry

`Allama Ibn Qayyim al-Jawziyya wrote in his book "Madarij as- Salikin," Vol. 1:
"the Prophet (s) also gave permission to sing in wedding celebrations, and allowed poetry to be recited to him. He heard Anas (r) and the Companions praising him and reciting poems while digging before the famous battle of the Trench (Khandaq) as they said: "We are the ones who gave bay'ah to Muhammad for jihad as long as we are living."

Ibn Qayyim also mentions `Abdullah ibn Rawaha's long poem praising the Prophet (s) as the latter entered Mecca, after which, the Prophet (s) prayed for him. He prayed that Allah support Hassan, another poet, with the Holy Spirit as long as he would support the Prophet (s) with his poetry. Similarly the Prophet (s) rewarded Ka'b ibn Zubayr's poem of praise with a robe. Ibn Qayyim continues, "`A'isha always recited poems praising him and he was happy with her."

Bacaan Marhaban




Mawlid Barzanji

Salam Mawlid Asy-Syariful Anaam, Muhammad Al-Mustafa

Tanggal 12 Rabi'ul Awal, tarikh keramat kelahiran seorang pembawa rahmat ke seluruh alam. Telah terpadamnya api sembahan majusi & bergegarnya istana kisra parsi
Marilah kita bersama memanjatkan kesyukuran dihari kelahiran Nabi SAW dan meneladani segala perwatakan dan jadikanlah beliau sebagai contoh ikutan dlm kehidupan.

Attirillahumma qabrahul karim,
bi'arfin syaziyin salatan wa taslim,
Allahumma Salli wa sallim wabarik alaih wa ala alih.